📰Mataram, 19–26 September 2026 — Dalam rangka memperkuat mutu pelayanan dan keselamatan pasien, tenaga keperawatan RSUD Provinsi NTB secara konsisten melaksanakan kegiatan ronde keperawatan dan study kasus keperawatan di berbagai unit pelayanan.
📰Mataram, 19–26 September 2026 — Dalam rangka memperkuat mutu pelayanan dan keselamatan pasien, tenaga keperawatan RSUD Provinsi NTB secara konsisten melaksanakan kegiatan ronde keperawatan dan study kasus keperawatan di berbagai unit pelayanan.
Kegiatan yang berlangsung pada 19, 21, dan 26 September 2026 tersebut merupakan bagian dari upaya pengembangan profesionalisme tenaga keperawatan melalui pembelajaran klinis berbasis kasus nyata. Kegiatan dilaksanakan di Ruang Mata Jitu, Ruang Tiu Kelep, dan HCU 2, dengan melibatkan tim keperawatan dalam proses pengkajian, validasi data, penetapan prioritas masalah, penyusunan intervensi, evaluasi, hingga perencanaan pemulangan pasien.
Melalui kegiatan ini, perawat didorong untuk mengembangkan kemampuan clinical reasoning, berpikir kritis, komunikasi klinis, serta pengambilan keputusan berdasarkan kondisi aktual pasien.
Kegiatan pertama dilaksanakan pada 19 September 2026 di Ruang Mata Jitu melalui ronde keperawatan pada pasien dengan diagnosis medis Pneumonia CAP PSI Score 80 RC III, Asma Bronchial late onset eksaserbasi serangan sedang, Diabetes Melitus Tipe 2, Obesitas, dan Hipertensi.
Kasus tersebut menjadi perhatian dalam ronde karena pasien memiliki kondisi medis yang kompleks dengan beberapa masalah yang masih memerlukan penanganan keperawatan secara berkelanjutan.
Dalam pembahasan, tim mengidentifikasi beberapa masalah keperawatan, yaitu bersihan jalan napas tidak efektif, ketidakstabilan kadar glukosa darah, intoleransi aktivitas, risiko ketidakseimbangan elektrolit, serta risiko perfusi renal tidak efektif.
Ronde diawali dengan validasi data secara langsung di ruang perawatan. Tim melakukan telaah terhadap kondisi pasien, hasil pengkajian, perkembangan klinis, serta respons terhadap intervensi yang telah diberikan.
Selanjutnya dilakukan diskusi untuk menentukan prioritas masalah, diagnosis keperawatan, tujuan asuhan, rencana intervensi lanjutan, serta discharge planning.
Proses tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan kesinambungan asuhan dan kesesuaian antara kebutuhan pasien dengan intervensi keperawatan yang diberikan.
Ruangan Mata Jitu (19/09/2026)
Pada 21 September 2026, kegiatan dilanjutkan dengan Study Kasus Keperawatan di Ruang Mata Jitu. Study kasus membahas pasien dengan diagnosis medis Adenocarcinoma Colon Transversum pT3N2M0, extended hemicolectomy sinistra, serta kemoterapi adjuvant 4 kali.
Kasus pasien onkologi tersebut dibahas secara komprehensif dengan fokus pada sejumlah masalah keperawatan, yaitu nyeri kronis berhubungan dengan infiltrasi tumor, gangguan integritas jaringan berhubungan dengan tindakan pembedahan, serta risiko infeksi terkait adanya stoma pada abdomen sebelah kiri.
Melalui forum ini, tim melakukan analisis terhadap kondisi pasien dan kebutuhan asuhan keperawatan secara menyeluruh. Pembahasan diarahkan pada pengelolaan nyeri, perawatan luka dan stoma, pencegahan infeksi, serta kebutuhan edukasi pasien dan keluarga. Study kasus juga menjadi media untuk meningkatkan kemampuan perawat dalam mengintegrasikan hasil pengkajian dengan proses pengambilan keputusan klinis sehingga intervensi yang diberikan dapat lebih terarah dan sesuai kebutuhan pasien.
Ruangan Mata Jitu (21/09/2026)
Masih pada 21 September 2026, dilaksanakan Ronde Keperawatan di Ruang Tiu Kelep pada pasien dengan diagnosis medis osteomielitis kronis 1/3 tengah tibia sinistra post operasi.
Pembahasan difokuskan pada beberapa masalah keperawatan, yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik, hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan integritas struktur tulang, serta risiko infeksi.
Tim melakukan evaluasi terhadap kondisi pasien dan mendiskusikan intervensi yang diperlukan, termasuk pengelolaan nyeri, pemenuhan kebutuhan mobilitas secara aman, pemantauan kondisi luka, serta pencegahan komplikasi pascaoperasi.
Ronde juga menjadi kesempatan untuk memastikan bahwa rencana asuhan keperawatan yang telah disusun dapat diimplementasikan secara konsisten dan dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi pasien.
Ruangan Tiu Kelep (21/09/2026)
Rangkaian kegiatan berikutnya dilaksanakan pada 26 September 2026 di HCU 2 melalui study kasus pada pasien dengan diagnosis medis Coronary Artery Disease (CAD) 3 Vessel Disease (3VD) post Coronary Artery Bypass Graft (CABG).
Sebagai pasien pascaoperasi jantung, kondisi tersebut memerlukan pemantauan dan asuhan keperawatan yang komprehensif.
Dalam study kasus, tim membahas tiga masalah keperawatan utama, yaitu nyeri akut berhubungan dengan prosedur tindakan invasif, penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama jantung pada kondisi post CABG, serta risiko infeksi terkait tindakan invasif dan kondisi post CABG.
Pada aspek nyeri, pasien dilaporkan mengalami nyeri pada area luka operasi di dada dan paha kanan. Nyeri dirasakan hilang timbul seperti ditusuk-tusuk, terutama saat bergerak, dengan intensitas 3 berdasarkan Numeric Rating Scale (NRS).
Kondisi tersebut menjadi bagian dari pembahasan untuk menentukan strategi pengelolaan nyeri yang tepat sekaligus mempertimbangkan kondisi kardiovaskular pasien.
Tim juga melakukan diskusi mengenai pentingnya pemantauan kondisi hemodinamik, perubahan irama jantung, kondisi luka operasi, tanda-tanda infeksi, serta toleransi aktivitas pasien dalam proses pemulihan pascaoperasi.
Ruangan HCU 2 (26/09/2026)
Rangkaian ronde dan study kasus tersebut memberikan ruang bagi tenaga keperawatan untuk melakukan pembelajaran klinis secara langsung berdasarkan kondisi pasien yang aktual.
Proses diskusi tidak hanya berfokus pada identifikasi masalah, tetapi juga mendorong perawat untuk memahami hubungan antara data subjektif dan objektif, diagnosis keperawatan, prioritas masalah, tujuan yang ingin dicapai, intervensi berbasis kebutuhan pasien, serta evaluasi hasil asuhan.
Pendekatan tersebut merupakan bagian penting dalam penguatan clinical reasoning, terutama dalam menghadapi pasien dengan kondisi kompleks dan memiliki berbagai komorbiditas.
Selain meningkatkan kemampuan individu, kegiatan ini juga memperkuat komunikasi dan kolaborasi antaranggota tim sehingga kesinambungan pelayanan dapat terjaga.
Pelaksanaan ronde dan study kasus secara berkala merupakan salah satu bentuk nyata komitmen RSUD Provinsi NTB dalam membangun budaya mutu di bidang keperawatan.
Dengan melakukan validasi data, evaluasi kondisi pasien, diskusi klinis, dan perencanaan intervensi secara sistematis, potensi masalah dapat diidentifikasi lebih awal dan ditindaklanjuti sesuai kebutuhan.
Kegiatan tersebut juga mendukung penerapan prinsip keselamatan pasien, khususnya melalui komunikasi efektif, identifikasi risiko, kontinuitas asuhan, serta keterlibatan pasien dan keluarga dalam proses pelayanan.
Dokumentasi kegiatan ronde dan study kasus melalui SIKK (Sistem Informasi Keperawatan dan Kebidanan) RSUD Provinsi NTB menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola kegiatan profesional tenaga keperawatan.
Melalui dokumentasi yang terstruktur, berbagai kegiatan klinis dapat menjadi bagian dari proses evaluasi, pembelajaran, dan pengembangan mutu pelayanan keperawatan.
SIKK diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai media dokumentasi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem informasi yang mendukung pengembangan profesionalisme, keterukuran kegiatan, berbagi pengetahuan, serta penguatan budaya mutu keperawatan.
Rangkaian kegiatan pada September 2026 tersebut menegaskan bahwa peningkatan mutu keperawatan merupakan proses yang dilakukan secara berkelanjutan.
Setiap kasus pasien menjadi sumber pembelajaran bagi tenaga keperawatan untuk terus meningkatkan kompetensi, memperkuat kemampuan berpikir kritis, serta memberikan intervensi yang tepat sesuai kondisi dan kebutuhan pasien.
Melalui ronde keperawatan dan study kasus yang dilakukan secara konsisten, RSUD Provinsi NTB terus mendorong terwujudnya pelayanan keperawatan yang profesional, aman, efektif, berbasis bukti, dan berorientasi pada pasien.
Komitmen tersebut diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas asuhan, keselamatan pasien, kepuasan pasien dan keluarga, serta penguatan budaya mutu di lingkungan RSUD Provinsi NTB.